Senin, 21 Mei 2012

Perahu Kertas



Perahu Kertas
            Arif duduk diatas tempat tidur mama, menunggu hujan yang tak reda dalam dua hari, selama itu Arif tak pergi ke TPQ, selama itu pula dia tak diizinkan keluar rumah oleh mama. Genangan air di halaman depan rumahnya makin meninggi, dia berharap hujan segera berhenti agar bisa bermain perahu-kertas bersama teman-temannya diluar.  Segera ia mengambil buku tulis dari dalam tas diatas lemari. Dirobeknya buku tulis bagian tengah, dia mulai melipat-lipat, membuat perahu kertas yang diajarkan nenek waktu berkunjung kerumahnya dua minggu lalu. Arif berlari menuju ruang depan dan lalu berdiri diatas kursi panjang, memegangi perahu kertas yang baru saja selesai dibuatnya,  membuka jendela dan melongok keluar. Hujan masih lebat dan bahkan rasanya semakin lebat, tak seorangpun teman dilihatnya. Angin dingin menerpa wajahnya, meninggalkan titik-titik putih lembut di wajah dan poni yang menutupi alisnya. Segera ia mengusapnya dan seketika itu wajahnya telah menjadi basah.

"Mana mamamu??!!" Tiba-tiba seorang laki-laki berkerudung plastik dengan basah kuyup, mengagetkannya dari luar jendela. "Mana mama??!!" sambil menggoncangkan kedua bahunya. Dia Om Lukman ternyata. Om lukman segera masuk masuk meloncati jendela, karena tadi malam mama menyumpal sela-sela bawah pintu dengan gulungan kantong plastik dan melarang Arif untuk membukanya.
"Aku di sini Man, tolong bantu aku!!." Teriak mama dari dalam kamar sambil menggulung kasur. Om Lukman segera membopong Arif kedalam kamar, tak disadarinya kamar tengah rumah sudah digenangi air, dan ternyata tak hanya ruang tengah, tapi seluruh lantai rumahnya.  Om Lukman mendudukan Arif  disebelah gulungan kasur dan segera memindahkan gulungan kasur itu keatas meja makan. Arif melongok kebawah tempat tidur, memandangi air yang makin deras mengalir, makin lama makin meninggi di lantai dalam rumahnya. Perahu-kertas masih dipegangnya dengan erat, dia masih berharap, …semoga sebentar lagi bisa bermain perahu-kertas didalam rumah... pikirnya.

Oke Rosgana

Saat banjir melanda Ibukota 2001

Minggu, 20 Mei 2012

bukit Ranggawulung

Aku disini, dilantai atas kantorku, dengan  jendela yang bisa mmbuatku mudah memandangi langit dan deretan bukit Ranggawulung, yg menghiasi latar belakang kotaku disebelah selatan, juga menjadi latar belakang setiap peristiwa yang kualami selama aku kecil hingga saat ini selama aku dikota ini.

Jika saja kotaku sudah mengalami begitu banyak perubahan, mungkin hanya bukit Ranggawulunglah yang tidak pernah berubah, hanya saja warnanya yg berganti sesuai musim..... Setidaknya itu yang kulihat dari sisipandangku

aku disini, dilantai atas kantorku, entah sudah berapa hari kulalui disini, diruangan ini, formasi meja dan lemari sudah banyak mengalami perubahan, aku memandangi deretan bukit Ranggawulung setiap pagi, setiap hari, setiap saat aku berada disini, diruang kantorku ini. 
Banyak hal yg terjadi diluar sana,diluar kepalaku, namun satu hal yang tidak pernah berubah dialam fikir ini dalam kepalaku sejak bertahun-tahun ini.

Aku disini, dilantai atas kantorku, dengan fikir yg tak pernah berganti, dan tak pernah juga terpikir untuk bisa terganti, fikir tentang senyum kecil yang manis, yang selalu menghias setiap pandanganku, ,  senyum yang selalu kutunggu saat ku  pulang dari sekolah dasar, entah brapa kali kulalui senyum itu, hingga menjadi bagian  yang selalu kuingini pada kepulanganku saat masa sekolahdasarku itu, denganlatar belakang deretan bukit Ranggawulung saat itu.

Aku disini, dilantai atas kantorku, mengingat Kejadian berpuluh tahun lalu saat untuk prtama kalinya kutemui senyum manis itu. aku Memandangi deretan Ranggawulung yang tak pernah berubah, seiring dengan hias senyum difikir ini yg tak pernah pula berubah.
aku Terhenyak,  saat kusadari aku pernah menyentuh senyum manis itu,  aku bergairah saat menyentuhnya, sentuhan yang membuatku sungguh bergelora, sentuhan senyum manis itu telah mengalahkan semua sentuhan yang pernah kualami berpuluh tahun ini.

Aku disini, dilantai atas kantorku, dihias pekat tentang rinduku pada sentuhan senyum itu, inginku selalu dekat dengan senyum itu, senyum manis yang bisa membuatku bersemangat menjalani hari-hari diantara kantor, dan kehidupanku ,dan ku ingin Selalu bersamanya....
Kupandangi langit dan deretan bukit Ranggawulung, bergeming, diam, angkuh, seiring dengan pekat rindu yg sedang kualami pada senyum itu.


Malam tadi


Bintang menghias malam, dingin menyisakan embun, bercengkrama pada bunga yang merentangkan kelopaknya…. Aku lebih memilih dibalik selimut, mencoba memejamkan mata ini sebelum  fajar mengharuskanku utk lekas bergegas, sebelum matahari mengembalikan embun keatas langit.

Aku begitu sangat mengantuk, tapi suara di kepalaku membuatku tetap terjaga padahal pagi ini sudah jam tiga. Kadang-kadang bisikan hati juga turut serta bercerita…… desir Freon kulkas bagai pemotong rumput, kadang-kadang berhenti, lalu tiba-tiba berbunyi lagi…. detak jam dinding seperti dentuman meriam di hening pagi ini, meski kuterus berharap bahwa lelap ini mampu merajut saraf2 dikelopak mata ini untuk bisa melewati sisa pagi yang harus kulalui….

Entah, kapan ku menyadarinya, saat suara jam dinding terdengar begitu indah, Freon kulkas sperti melantunkan symphony, merangkai suara merdu yang mengantarkanku pada sebuah nama yang selalu kurindu…..
Aku menemukan diriku diantara padang, bukit bunga mewarna, yang puncaknya berselimut kabut, tertutup awan, hampir tak ada tanah tersisa, semua tertutup penuh Bunga, lantunan symphony masih terdengar lewat desir angin yang membuat tarian indah pada bunga-bunga di padang ini…. Aku terus melangkah, kubiarkan  kaki ini melewati dedaunan diantara bunga, bergerak mencari apa yang sedang kucari, terkadang desir angin ini begitu jelas terdengar membisikkan nama yang selalu kurindu…. Namamu.

Rupanya aku bermimpi tadi, kulihat diluar sudah membiru, hati dan fikirku selalu mengingatmu, inikah yang dinamakan merindu???
Subang, 21 Mei 2012
Saat susah tidur malam tadi