Rabu, 27 Juli 2011

artikel dari Kompas.com

Oke Rosgana menunjukkan koleksi bumerang andalannya.

SUBANG, KOMPAS.com — Setelah sukses menularkan hobi yoyo, Oke Rosgana (36) tengah berupaya menghidupkan hobi bumerang. Bagi Oke, kegemaran melempar bumerang telah menjadi hobi yang sulit ditinggalkannya.

Agar hobi bumerang ini menular lebih luas, pria kelahiran 20 Oktober tersebut berinovasi membuat bumerang yang bisa dimainkan di tempat yang tidak luas, bahkan di dalam ruangan sekalipun.

Lahirlah tipe skyplast (4 blade/sayap) dengan radius lintasan 1-2 meter dan type triplast (3 blade) dengan radius lintasan lebih jauh, 2-3 meter. Bahan yang dipergunakan adalah plastik sheet sehingga jika dimainkan anak-anak di dalam rumah tidak membahayakan barang-barang yang ada di dalam.

Kegemarannya dengan bumerang, kata Oke, berawal saat tahun 1997 ia diberi cendera mata bumerang oleh tetangganya yang pulang dari Australia. Kemudian dibuat tiruannya berbahan triplek.

Awalnya, ia hanya mengoleksi tiga bumerang, di antaranya hasil disain atlet bumerang AS, Jim Mayfield, jenis yanaki dari Colorado. Koleksi lainnya jenis triblade berbahan carbon dan yang strip laminated bernama outback 2.

Kini ia sudah mulai memproduksinya sendiri. Oke menjelaskan, teknik pembuatan bumerang membutuhkan pemahaman terhadap rumus dalam menentukan panjang dan bentuk sayap serta ketebalan bahan. "Khususnya ketebalan akan memengaruhi bentuk dan ukuran bumerang itu," katanya di Lapang Bintang, Subang, akhir pekan lalu.

Ada pula pembuatan natural elbow yang bentuknya alami, misalnya dari cabang pohon yang diolah menjadi bumerang. "Keunggulan bahan (campuran taco dan resin) ini lebih memberikan efek berat dan lentur," katanya lagi.

Oke pun mengundang para penggemar bumerang untuk bergabung dengan Indonesian Sport Bumerang Association (Inasba). Menurut Oke, direncanakan seusai Idul Fitri, atau sekitar Oktober, akan digelar eksibisi tingkat nasional di Subang.

Kelas pertandingan yang akan dilombakan adalah Aussie round, Doubling (sekali lempar dua), Jugling (dua atau lebih dilempar berkesinambungan untuk ditangkap secara tepat), Maximum Time Aloft (MTA), Longdistance (bumerang dengan radius lintasan yang panjang), dan Fastcatch (kecepatan menangkap dengan lima kali lemparan dalam waku tercepat dalam jarak lintasan minimal 20 meter).

Selasa, 12 Juli 2011

artikel Kidnesia


Syuut, yoyo dilempar ke segala arah. Wow, jadi bentuk sarang laba-laba!

Jari-jemari si Yo-Yo Man ini begitu lihai melempar mainan kecil bertali panjang. Benda bulat itu diayunkan ke segala arah dengan luwes.




Iih, Kak Oke lihai bermain dengan yoyo. Ayo, kalian mau minta bentuk apa? Kak Oke siap memainnkannya.

Syuuut, yoyo terlempar sambil diiringi musik bernada agak cepat. Jadilah yoyo seperti jaring laba-laba.

Itulah kehebatan Kak Oke Rosgana , sang Yo-Yo Man Indonesia.

Sejak kecil, ia memang suka dengan mainan-mainan anak.

Baru sejak usia 25 tahun, tepatnya di tahun 2000, ia mulai serius belajar yoyo. Ketertarikannya ini juga berawal dari hobi membuat desain untuk permainan yoyo.

Berkat keberhasilannya itu, lulusan seni rupa dan desain Institut Teknologi Bandung ini dipercaya mendesain yoyo untuk sebuah perusahaan di Amerika Serikat.

Sang Yo-Yo Man ini juga belajar dari juara kompetisi yoyo sedunia, Yohanes van Elzen dari Amerika Serikat (AS), yang pernah datang ke Indonesia untuk mempromosikan yoyo tipe high end .

Teknik bermainnya benar-benar membuat Kak Oke kagum. Misalnya saja, ada teknik string tricks , memainkan yoyo saat berputar di salah satu ujung tali. Ada lagi, double looping , trik memainkan dua yoyo sekaligus pada kedua tangan.

Wah, wah, teknik itu tentu rumit karena otak kiri maupun kanan dimanfaatkan betul. Kalau teknik off string , tali tidak terikat. Yoyo dimainkan di tengah-tengah tali yang dikendalikan oleh kedua tangan.

Sekarang, Kak Oke pun mampu memainkannya dengan mahir.

Pawai Yoyo di Sudan

Sebuah pengalaman yang tak pernah dilupakan Kak Oke, yaitu ia berpawai yoyo di negeri Sudan, Afrika. Masyarakat di sana pun menyambutnya seperti seorang artis beken.

"Yoyo man! Indonesia!" begitulah kata-kata anak-anak di Sudan yang sempat diingat oleh Kak Oke sewaktu pawai di Sudan.

Kak Oke sedang membentuk yoyo menjadi sebuah menara Tokyo! Hebat!

Kedatangannya ke negeri itu, Juni 2007, karena undangan dari sebuah perusahaan susu terkenal di Sudan.

Perusahaan itu ingin Kak Oke mengakrabkan anak-anak terhadap permainan yoyo ke sejumlah kota.

Selama pertunjukan keliling, Kak Oke bermain yoyo di atas truk besar yang diubah menjadi panggung.

"Benar-benar berkesan waktu pawai ke Sudan itu. Saya bangga, sebagai wakil dari Indonesia, bisa mengenalkan yoyo di tingkat dunia," cerita Kak Oke sewaktu ditemui Nesi di acara Aku dan Mainanku yang berlangsung di Mal Ciputra, Jakarta.

Bermain yoyo tak hanya sekedar untuk hiburan, lho. Menurut Kak Oke, permainan ini juga melatih kita berpikir dan baik untuk kecerdasan.

Bahkan, menurutnya, seseorang yang pandai bermain yoyo itu tandanya, dia sudah dewasa dan tumbuh menjadi seorang remaja yang pintar.

Kalau begitu, kita ikuti jejak Kak Oke, bermain yoyo! Siapa mau ikutan? (Annisa/Kidnesia/Foto: Riomanadona)