Selasa, 06 November 2012

Liputan6 SCTV

Lewat Yoyo, Nama Oke Rosgana Mendunia

Yoyo | oleh Tim Liputan 6 SCTV
Posted: 20/02/2010 08:47
Lewat Yoyo, Nama Oke Rosgana Mendunia
Liputan6.com, Jakarta: Bersepeda motor ke kantor menjadi keseharian Oke Rosgana. Namun siapa sangka, di balik statusnya sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Subang, Jawa Barat, ternyata namanya sudah mendunia. Lewat permainan yoyo, Oke mengukir prestasi internasional. Gelar sebagai master yoyo Indonesia pun disandangnya.

Semuanya bermula usai dirinya menyaksikan aksi Yohanes van Elzenm juara dunia yoyo asal Amerika Serikat di Bandung, 10 tahun silam. Sejak itu, ketertarikan Oke akan permainan anak-anak tersebut membuatnya terus mengasah kemampuannya. Sejumlah teknik permainan yoyo pun ia kembangkan. "Setelah saya geluti secara serius, saya merasakan ada rileksasi ketika main yoyo dan saya ketagihan," kata Oke dalam dialog di Liputan 6 Pagi SCTV, Sabtu (20/2). "Dan saya mulai belajar sendiri lewat internet."

Oke juga dikenal sebagai kolektor yoyo dari seluruh dunia. Saat ini, koleksinya tidak kurang dari 200 buah. Bahkan, ada salah satu koleksi yoyonya yang harganya mencapai Rp 4 juta. Tak hanya dikenal sebagai master yoyo, Oke juga piawai dalam mendesain yoyo. Latar belakang pendidikannya dari jurusan seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) memudahkan langkah ayah seorang putri ini.

Dari kemampuannya itu, Oke kemudian dipercaya untuk mendesain yoyo oleh sebuah perusahaan yoyo asal AS. Desain terakhir Oke adalah yoyo bermotif batik. Selain memenuhi pesanan, yoyo batik turut menjadi bukti kecintaan Oke pada budaya bangsa. "Yoyo (batik) ini hanya dibuat 100 buah yang diberikan kepada para pemain yoyo di seluruh dunia yang sudah berdedikasi terhadap yoyo selama 80 tahun," ucap Oke.

Setelah namanya mendunia, Oke masih menyimpan asa. Ia ingin Kota Subang dikenal sebagai kota yoyo. Obsesinya itu coba diraih dengan menularkan keahliannya bermain yoyo kepada sejumlah pelajar sekolah menengah atas (SMA)di Kota Subang. "Saya ingin Subang tak hanya dikenal sebagai kota nanas atau sisingaan, tapi ingin di Subang itu ada kampung yoyo," ucap pria yang dikenal juga sebagai ilustrator dan seniman yoyo ini.(BOG)

By Raden Gumelar

 
Liputan6.com, Jakarta: Bersepeda motor ke kantor menjadi keseharian Oke Rosgana. Namun siapa sangka, di balik statusnya sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Subang, Jawa Barat, ternyata namanya sudah mendunia. Lewat permainan yoyo, Oke mengukir prestasi internasional. Gelar sebagai master yoyo Indonesia pun disandangnya.

Semuanya bermula usai dirinya menyaksikan aksi Yohanes van Elzenm juara dunia yoyo asal Amerika Serikat di Bandung, 10 tahun silam. Sejak itu, ketertarikan Oke akan permainan anak-anak tersebut membuatnya terus mengasah kemampuannya. Sejumlah teknik permainan yoyo pun ia kembangkan. "Setelah saya geluti secara serius, saya merasakan ada rileksasi ketika main yoyo dan saya ketagihan," kata Oke dalam dialog di
Liputan 6 Pagi SCTV, Sabtu (20/2). "Dan saya mulai belajar sendiri lewat internet."

Oke juga dikenal sebagai kolektor yoyo dari seluruh dunia. Saat ini, koleksinya tidak kurang dari 200 buah. Bahkan, ada salah satu koleksi yoyonya yang harganya mencapai Rp 4 juta. Tak hanya dikenal sebagai master yoyo, Oke juga piawai dalam mendesain yoyo. Latar belakang pendidikannya dari jurusan seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) memudahkan langkah ayah seorang putri ini.

Dari kemampuannya itu, Oke kemudian dipercaya untuk mendesain yoyo oleh sebuah perusahaan yoyo asal AS. Desain terakhir Oke adalah yoyo bermotif batik. Selain memenuhi pesanan, yoyo batik turut menjadi bukti kecintaan Oke pada budaya bangsa. "Yoyo (batik) ini hanya dibuat 100 buah yang diberikan kepada para pemain yoyo di seluruh dunia yang sudah berdedikasi terhadap yoyo selama 80 tahun," ucap Oke.

Setelah namanya mendunia, Oke masih menyimpan asa. Ia ingin Kota Subang dikenal sebagai kota yoyo. Obsesinya itu coba diraih dengan menularkan keahliannya bermain yoyo kepada sejumlah pelajar sekolah menengah atas (SMA) di Kota Subang. "Saya ingin Subang tak hanya dikenal sebagai kota nanas atau sisingaan, tapi ingin di Subang itu ada kampung yoyo," ucap pria yang dikenal juga sebagai ilustrator dan seniman yoyo ini.(BOG)
Sumber : http://berita.liputan6.com/sosbud/201002/264605/Lewat.Yoyo.Nama.Oke.Rosgana.Mendunia


soal artikel ku di KOMPAS

Oke Rosgana dan Yoyo

Oke Rosgana dan Permainan Kreatif

Oleh Anton

Kompas hari senin (22/10/07) menurunkan rubrik yang menarik tentang Yoyo Rosgana. Terus terang nama orang ini baru saya dengar, tapi dilihat dari prestasinya lewat permainan dan kemampuan mendisain yoyo, membuat saya bangga dengan Oke sebagai anak bangsa Indonesia yang telah memberi hiburan di negeri orang lain. Bahkan di Sudan dengan penuh keharuan berbondong-bondong orang menonton aksi Oke yang beberapa kali mengadakan pertunjukan dan diwawancarai TV setempat. Oke pulang dalam gegap gempita melepas kepulangannya karena ia berhasil menghibur warga Sudan.

Sudah saatnya kita lebih intens memperhatikan bentuk-bentuk permainan kreatif yang dapat melatih otak. Anak-anak dibawah sepuluh tahun harus dikenalkan pada permainan yang mampu merangsang otak seperti : yoyo, gasing, gundu, lego dan banyak permainan yang dulu ketika jaman permainan elektronik belum mewabah seperti sekarang. Saya ingat teman kecil saya yang pada umur 10 tahun sudah mampu buat kapal uap sederhana yang bahan bakarnya dari minyak tanah. Sekarang saya perhatikan anak-anak lebih senang main games. Saya sendiri tidak tahu dengan dampak permainan games pada anak-anak tapi yang saya perhatikan adalah mereka cenderung menjadi lebih asosial ketimbang anak-anak jaman dulu yang bermain selain kreatif juga melatih hubungan sosial seperti main gundu atau layangan.

Oke Rosgana termasuk beruntung karena proses kreatifnya diperhatikan bahkan SMAN 1 Subang memberikan kesempatan untuk Oke mengajar permainan yoyo. Saya sangat membenarkan pendapat Oke yang mengatakan bahwa permainan yoyo dapat melatih secara optimal kerja otak kiri dan kanan pemainnya. Jika para psikolog pendidikan membenarkan hal ini sudah saatnya kurikulum pendidikan kita menekankan pada aspek kreatif bukan aspek teoritis-hapalan yang membebankan murid dengan buku-buku wajib dan bikin kaya penerbit-penerbit buku pelajaran lewat kongkalingkong antara pihak sekolah dan penerbit yang menekan keuangan orang tua murid. Penekanan aspek kreatif ini dapat merangsang para siswa melatih pikirannya dengan tidak membeo. Karena saya perhatikan siswa yang dimenangkan dalam kurikulum gaya Indonesia adalah siswa yang mampu menghapal bukan siswa yang berpikir kreatif. Hal ini kerap menimbulkan tumbukan psikologis bagi sang anak yang merasa dirinya tersingkirkan dalam sistem besar kekuasaan pendidikan. Padahal kecerdasan itu bukan dilihat dari aspek menghapal saja, tapi juga memiliki banyak dimensi-nya, termasuk berpikir kreatif. Orang yang berhasil dalam kehidupan biasanya adalah orang yang mengetahui bakatnya dan ketertarikannya pada satu bidang, walaupun bidang itu berlawanan dalam arus kekuasaan sistem pendidikan namun dia berani melawan. Ahmad Dani pentolan Band Dewa adalah salah satu contoh orang yang berhasil mengasah bakatnya dan melawan sistem pendidikan yang dirasa mengekang dirinya. Prestasi Ahmad Dani jelas lebih tinggi nilainya dari orang-orang yang sebenarnya tidak berbakat tapi memaksakan diri untuk ikut ke dalam arus besar kekuasaan pendidikan, maka timbullah gelar-gelar pendidikan tak berbunyi.

Dulu RCTI juga dengan rutin menayangkan acara dari Jepang yang banyak diikuti anak-anak dalam mengolah imajinasinya dengan kerja-kerja kreatif. Saya heran acara ini tidak ditiru oleh televisi-televisi lokal kita yang punya kebiasaan sering meniru itu. Yang populer justru acara melatih anak-anak berdakwah agama. Saya sangsi apa mereka mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, karena saya sering perhatikan apa yang mereka bicarakan dalam dakwah merupakan persoalan orang dewasa. Apa disini lantas anak-anak dilatih untuk membeo? Atau memang disinilah letak kesalahan kita dari awal. Lebih melatih anak untuk bicara daripada berpikir kreatif?........

PEMKAB SUBANG APRESIASI OLAHRAGA BUMERANG

PEMKAB SUBANG APRESIASI OLAHRAGA BUMERANG

Senin, 15 Oktober 2012 | 20:05:55 | 32 Views


Formatnews, Subang:

Ketua Panitia Kejuaraan Nasional Olahraga Bumerang Subang 2012, Oke Rosgana menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak Pemerintah Kabupaten Subang yang telah mendukung secara serius pada penyelenggaraan Kejurnas Bumerang yang dilaksanakan oleh INASBA (Indonesian Sport Boomerang Association) di Lapangan Atletik GOR Subang pada 6 – 7 Oktober lalu.

Ungkapan Panitia tersebut ditandai dengan penyerahan souvenir panitia oleh Oke yang diterima oleh Sekretaris Daerah (Sekda), Drs. H. Rahmat Solihin pada Apel Pagi di halaman Kantor Bupati Subang, Senin pagi (15/10).

Selaku Pemkab Subang, Rahmat menyatakan sangat mengapresiasi kegiatan olahraga. Terlebih olahraga bumerang cukup menarik, unik dan berpotensi sebagai daya tarik yang kepariwisataan maupun industri kreatif khususnya di Subang.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Bagian Rumah Tangga Setda Kab. Subang, Drs. Nono Maulana Yusuf yang menyatakan pihak Pemerintah Subang sangat serius mendukung potensi yang bermanfaat. “Sebagai bukti keseriusan (Pemkab Subang), Pak Sekda mempersilahkan rumah dinasnya dijadikan base camp selama acara (kemarin) berlangsung,” ujar Nono.

Sementara itu kata Nono, pihaknya telah mendapat informasi bahwa INASBA pada waktu mendatang berencana akan menggelar kegiatan Turnamen yang sama. Pemerintah Subang akan memberikan dukungannya secara serius bila kemudian rencana itu direalisasikan. Nono menyampaikan kesalutannya pada semua anggota INASBA yang sangat antusias mendukung penyelenggaraan kejurnas yang diselenggarakan kemarin. “Kalau nggak kompak mana mungkin bisa (meriah) seperti kemarin,” ungkapnya.


terima kasih untuk Kang Teddy dan Jun untuk artikel ini :)